Jika Anda atau orang terdekat sedang dalam krisis atau berpikir untuk mengakhiri hidup, segera hubungi 112 (darurat) atau Layanan Sejiwa Kemenkes RI: 119 (lalu tekan 8). Konten di situs ini bersifat edukatif, bukan pengganti penanganan darurat.

Materi 6 dari 14

Bahasan Depresi

Draf terjemahan awal (mesin), belum direview/divalidasi tim Indonesia.

Materi ini berupa video; teks di bawah adalah terjemahan transkripnya.

Bahasan Depresi

[Catatan produksi: video asli belum di-porting; transkrip di bawah adalah terjemahan sementara dari narasinya.]

Klien Muslim akan sangat bervariasi dalam hal pengetahuan tentang depresi dan keakraban dengan istilah psikiatri seperti gejala dan diagnosis. Dalam BA-M, tidak penting bagi terapis untuk mengedukasi klien tentang depresi atau gejala-gejalanya. Terapis BA-M tidak harus menggunakan kata “depresi” saat bekerja dengan klien. Sebaliknya, terapis sebaiknya mempelajari bahasa dan cara klien menggambarkan masalahnya, lalu menyesuaikan model aktivasi perilaku dengan bahasa klien tersebut. Terapis perlu memberikan rasional penanganan yang baik, yang mengaitkan teknik penanganan dengan masalah apa pun yang disampaikan klien.

Sebagai contoh, penjelasan tentang depresi pada orang dari latar belakang non-Eropa sering diungkapkan secara somatik (melalui keluhan fisik) atau dikaitkan dengan penyebab lingkungan. Pemahaman holistik tentang tubuh, pikiran, dan lingkungan sosial ini perlu diperhatikan selama diagnosis, asesmen, dan terapi. Nyeri tubuh yang menyeluruh dan gejala fisik sangat berkaitan dengan depresi dalam banyak studi pada populasi Muslim dari berbagai latar belakang etnis, dan klien mungkin menyangkal bahwa dirinya depresi. Ini bukan masalah, dan klien tidak perlu diyakinkan untuk berbicara dalam istilah emosional — penanganan tidak perlu bergeser ke arah itu. Terapis sebaiknya menggunakan bahasa dan istilah klien sendiri dalam menggambarkan pengalamannya, dan langsung memasukkan gejala somatik tersebut ke dalam model. Biasanya, gejala somatik ini dapat dipandang sebagai respons umum, dan terapis akan berfokus mengaktivasi klien untuk menjaga gaya hidup sehat meski gejala tersebut masih ada.

Ekspresi fisik dari depresi mungkin tidak berlaku bagi semua individu dalam populasi Muslim. Namun, kami menemukan bukti — baik dari kerja lapangan maupun studi yang ada — bahwa istilah seperti “depresi” dan “stres” juga digunakan oleh Muslim di Inggris maupun negara lain, sebagai akibat dari paparan terhadap istilah tersebut dan model pemahaman depresi ala Barat. Pengguna layanan juga menyoroti adanya stigma yang mungkin melekat pada depresi, yang dapat dipandang sebagai “gila” atau gagal berpegang pada ajaran Islam atau berpaling kepada Tuhan sebagai respons yang tepat terhadap kesedihan atau tekanan batin. Persepsi ini dapat menjadi salah satu faktor keengganan klien Muslim mengakui dirinya depresi.

Namun, persepsi semacam ini tidak selalu terjadi. Dalam konteks Inggris, sebuah studi pada pasien rawat inap yang sebagian besar Muslim Asia Selatan menemukan sedikit bukti adanya stigma berlebihan terkait penerimaan penanganan kesehatan jiwa. Kerja lapangan kami juga mengonfirmasi bahwa sebagian Muslim mengaitkan depresi dengan ajaran Islam tentang keberadaan kekuatan gaib serta sihir atau “evil eye” (pandangan mata jahat/ain). Keyakinan tentang kerasukan atau pengaruh jin — makhluk gaib yang bisa baik atau jahat — sebagai penyebab gangguan jiwa diterima sebagai kemungkinan dalam situasi tertentu yang jarang terjadi, oleh sebagian ulama Muslim.

Informan kunci menyampaikan bahwa kaitan antara gangguan jiwa dan penyebab supernatural sering muncul ketika klien melukai diri sendiri, mendengar suara-suara, mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri. Konteks di balik pengalaman semacam ini sering kali juga melibatkan konflik keluarga, dan terapis dapat mengeksplorasinya dengan menanyakan apa yang menurut klien menjadi alasan kekuatan gaib memengaruhi dirinya. Temuan ini muncul baik pada Muslim di Inggris maupun di Pakistan — penjelasan yang diberikan bersifat biologis, psikologis, sosial, namun juga spiritual dan paranormal. Jadi, alih-alih model biopsikososial semata, ada dua aspek tambahan: spiritual dan paranormal.

Dalam masyarakat Muslim, kerasukan secara historis dipandang baik sebagai ujian keimanan — yang berujung pada penanganan suportif — maupun sebagai hukuman atas dosa, yang dalam pandangan ini individu dianggap lebih bertanggung jawab sehingga cenderung diisolasi dan distigma. Kedua interpretasi ini masih dapat ditemukan dalam masyarakat Islam modern, namun ajaran Islam mendorong praktik suportif, seperti menganjurkan orang melindungi diri melalui bacaan Al-Qur'an dan doa, serta ruqyah oleh orang yang berilmu dan saleh.

Ketika klien meyakini kekuatan gaib terlibat dalam menyebabkan depresinya, jelaskan bahwa terapi tetap dapat membantu, berdampingan dengan tindakan lain yang mungkin diperlukan untuk melawan kekuatan tersebut. Mengeksplorasi bersama klien kemungkinan berkolaborasi dengan atau merujuk ke tokoh agama juga dapat efektif mendukung klien dalam situasi ini, dan klien mungkin sudah menjalankan saran semacam itu. Daftar sumber daya di bagian akhir panduan ini mencakup organisasi yang dapat memberikan saran dan dukungan untuk hal ini.

Rasa malu dan stigma dapat menjadi alasan klien tidak mengakses bantuan profesional, sehingga sebagian klien Muslim lebih memilih strategi koping yang privat. Faktor ini dapat dikaitkan dengan tabu budaya soal mengungkapkan masalah pribadi atau keluarga kepada pihak luar, dan dampak buruk yang mungkin ditimbulkannya — misalnya, terhadap prospek pernikahan di masa depan.

Namun, ada pula bukti bahwa toleransi terhadap gangguan jiwa bisa sangat tinggi dalam populasi Muslim, asalkan gangguan tersebut dapat dipahami dalam kerangka yang dapat diterima secara budaya. Sebagai contoh, depresi akibat masalah pernikahan akan dipandang dapat dipahami dan tidak distigma. Sebaliknya, depresi yang dilepaskan dari penyebabnya dan dijelaskan murni secara biologis, atau dengan cara yang mengindikasikan kekurangan pada individu tersebut, akan lebih dikaitkan dengan stigma.

Karena itu, model psikologis yang digunakan oleh layanan menjadi penting bagi bagaimana layanan tersebut dipersepsikan, dan BA menekankan bahwa depresi adalah respons yang dapat dipahami terhadap konteks yang melatarinya. Penekanan pada tindakan, bukan pada pemahaman mendalam tentang patologi depresi, dinilai lebih selaras dengan nilai-nilai masyarakat Muslim.

Terapis perlu menjelaskan bahwa terapi ini sepenuhnya rahasia, dan bukan tentang menangani “masalah di dalam diri” seseorang, melainkan tentang membantu orang menyelesaikan masalah yang menurut mereka penting. Terapis dapat mengatakan, “Dengar, tujuan saya adalah membantu Anda menyelesaikan masalah dalam hidup Anda dan bergerak lagi sehingga Anda merasa hidup Anda berjalan lebih baik. Saya bisa membantu Anda dengan itu. Saya bisa memahami mengapa Anda merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ingin membantu…”